PAZZA INTER AMALA

Senin, 06 Mei 2013

Islam dan Politik

Secara teoritis, politik  adalah suatu ilmu yang memiliki urgensi dan kedudukan tersendiri. Secara praktis, politik adalah suatu sistem yang memiliki kehormatan dan manfaat tersendiri karena ia berkaitan dengan usaha menangani urusan manusia dengan cara sebaik-baiknya.
Al-Imam Ibnu-Qayyim mengutip perkataan Al-Imam Abdul Wafa’ bin Usail Al-Hambali, bahwa politik adalah suatu kinerja yang dengannya manusia bisa menjadi lebih dekat dengan perbaikan dan lebih jauh dari kerusakan, selagi tidak bertentangan dengan syariat.
Tetapi manusia zaman sekarang, khususnya di negeri kita ini, justru merasa alergi terhadap politik dan sesuatu yang berbau politik. Hal ini bisa dikarenakan banyaknya masalah yang dihadapi dalam dunia politik dan tatkala berhadapan dengan mereka yang memainkan politik hanya untuk golongan tertentu saja.
Islam mempunyai sikap yang jelas dan hukum yang tegas dalam berbagai masalah yang dianggap sebagai tulang punggung dunia politik. Islam bukan hanya keyakinan para pemimpin agama atau slogan-slogan ibadah semata. Maksudnya, Islam tidak hanya sekedar hubungan antara manusia dengan Rabb-nya tanpa ada hubungan dengan cara mengatur kehidupan, menuntun masyarakat dan pemerintahan.
 Dengan kata lain, Islam merupakan sistem yang sempurna bagi kehidupan, yang meletakan prinsip-prinsip, membuat ketetapan hukum, menjelaskan tuntunan yang berkaitan dengan kehidupan individu, cara menata rumah tangga, mengatur masyarakat dan menjalin hubungan dengan dunia.
Sekalipun orang muslim sedang sholat, bisa saja dia terjun ke kancah politik yaitu tatkala dia membaca ayat-ayat dari kitab Allah yang berkaitan dengan masalah politik. Siapa yang membaca ayat-ayat dalam surat Al-Maidah yang menyuruh untuk menetapkan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, yang menganggap siapa pun yang tidak menetapkan perkara menurut apa yang diturunkan Allah sebagai orang kafir, zhalim dan fasik (lihat Al-Maidah ayat 44,45,47) berarti dia telah terjun ke kancah politik.
Bahkan Nabi Shallallahu Alaihi Wa  Sallam adalah seorang politikus, di samping sebagai mubaligh, pengajar dan hakim. Beliau adalah pemimpin pemerintahan dan pemimpin umat. Begitu pula Al-Khulafa’ur-rasyidin yang mengikuti jejak beliau. Mereka mengatur umat secara adil dan baik berdasarkan ilmu dan iman.
Dinukil dari buku "Fiqih Daulah" karya Dr. Yusuf Al-Qardhawy

Senin, 11 Februari 2013

Belajar Dari Semut


Apa yang dapat kita banggakan dari seeokor semut? Pertanyaan diatas mungkin terlihat sederhana dan agak tidak penting untuk dijawab. Semut hanyalah makhluk kecil ciptaan tuhan, saking kecilnya kerap kita injak dengan sepatu dan sandal kita. Jika ia mengusik cukup dengan sekali kibasan tangan semut itu pun terpental jauh entah kemana. Namun pertanyaan diatas menjadi sangat penting untuk dijawab apabila kita ingin belajar mengenai sebuah arti kerja sama, sistem peperangan, ekonomi bahkan keberlangsugan hidup.
Dalam sebuah laporan yang disampaikan oleh Agus Purwanto yang mengutip laporan dari majalah Reader Didest  yang terbit sekitar tahun 70-an setidaknya ada 4 hal penting dimana semut dapat menjadi panutan kita.
Semut Rangrang

Selasa, 22 Januari 2013

Begitu Indah


“Pertama bertemu pada malam yang begitu terang. Senyummu mengalahkan sinar rembulan. Ku terlena, lantas ku cari tahu siapa namamu. Nama seorang yang begitu indah, yang dengan beraninya masuk ke hati ini tanpa permisi.
Ahh.. ku terlalu cepat mengatakan ini tapi biarlah. Biarlah kau tahu, biarlah mereka berpendapat, biarlah ku terbuai dengan rasa ini.
Semua yang terjadi begitu cepat namun indah. Pandangan pertama? Yah lebih tepatnya untuk semua ini. Masih jelas di ingatanku, ketika mata kita bertemu kau terlihat begitu malu begitu juga denganku. Sejak itu ku selalu berharap kau adalah nama yang telah tertulis.”

Arti Pertemuan


“Hidup adalah mati, berjumpa adalah berpisah, memulai pasti diakhiri. Merupakan hal yang wajar namun sangat menyakitkan. Pada perpisahan dimaksudakan agar semua kebaikan terlihat dari sisi yang berjauhan.
Sore itu, aku duduk disekeliling kolam tenang saat matahari mulai di puncak klimaksnya. Aku benar-benar menyusuri wajhamu di beriak-beriak air yang bertaburan, kususuri pelan-pelan dan akhirnya aku sama sekali tak menemui meskipun hanya sekedar bayayangnmu.
Saat kau pergi, tak sepatah katapun kau titipi aku untuk menunggumu. Tak ada sepatah katamu untuk mengakhri ini semua. Tapi tampaknya aku harus mulai berdamai dengan perasaanku sendiri yang bergejolak denagan perih.”
Puisi ini ditulis oleh sahabatku secara diam-diam di binder ketika kita pertama bertemu di Bogor pada acara pelatihan pendidik sebaya Genre. Alfian.

Selasa, 18 Desember 2012

Pentingnya Rivalitas


Rivalitas merupakan bagian dari kehidupan yang  terkadang harus kita jalani jika ingin menjadi hebat. Ya hebat. Namun jika kita amati pemaknaan rivalitas dewasa ini meruncing kepada hal yang negatif. Contohnya adalah rivalitas antara PSSI dan KPSI dalam mengelola pesepakbolaan Indonesia. Kenapa saya memberikan contoh tentang sepakbola? Ya karena saya ingin menulis tentang itu dan yang ada difikiran saya ya itu (serius). Sungguh prihatin. Dalam kasus ini  masing-masing berasa benar dan keras kepala merasa bahwa dia yang paling berhak mengelola olahraga yang satu ini di Indonesia.
Real Madrid VS Barcelona
Singkat cerita, mana mungkin suatu negara mempunyai 2 tim nasional? PSSI dengan pelatih Nil Maizar berisi pemain yang berasal dari LPI dan KPSI dengan pelatih Alfred Riedl berisi pemain dari kompetisi LSI. Cuma ada di Indonesia.Itulah contoh jika seseorang dan kelompoknya memaknai rivalitas dalam hal negatif. Mereka berlomba-lomba menjadi terbaik namun mengorbankan kepentingan umum dalam hal ini rakyat Indonesia. Namun tahukah anda siapa yang membuat Barcelona begitu dominan di kompetisi lokal dan eropa saat ini? Tahukah anda siapa yang membuat Manchester United dapat menguasai Liga Inggris dalam 1 dekade terakhir? Jawabannya tidak lain adalah karena musuh-musuh mereka Real madrid dan Liverpool. Yah musuh, rival mereka.Sebelum Barcelona menjadi hebat saat ini mereka tidaklah apa-apa dibandingkan prestasi Real Madrid, puncaknya mereka meraih 6 Piala yang tersedia dalam satu tahun 2009 bersama Pep Guardiola. Manchester United pun demikian sebelum merajai liga Inggris 1 dekade terakhir mereka masih kalah prestasi dibandingkan rival abadi mereka Liverpool namun pada tahun 2010 mereka berhasil mengangkangi jumlah trofi Liverpool untuk urusan trofi Liga Inggris dengan 19 trofi.         Anda boleh tidak setuju dengan pendapat saya diatas namun itulah yang terjadi. Mereka sadar dengan adanya rivalitas, malu jika tidak berbuat sesuatu dan tidak mungkin selalu berada di belakang. Pembenahan dan introspeksi diri mereka lakukan untuk dapat mensgungguli rival mereka, inilah contoh jika rivalitas dipandang sebagai sesuatu yang positif. So, kenapa kita takut dengan adanya rivalitas? Rivalitas ada untuk membuat kita tidak berleha-leha menjalani hidup ini. Terakhir dari saya, CARILAH RIVAL ANDA DAN UNGGULI PRESTASI DIA. Good Luck J

Jumat, 23 November 2012

PULAU TIDUNG Part 1.



Yeayyy..!! apa yang ada dipikiran sobat semua kalo dengar kata Pulau Tidung? Hmmm.. pasti terbayang keren abis kan pulaunya apalagi jembatan cintanya yang panjangnya mencapai 1 kilometer itu heee. Uuppss mungkin ada juga sobat yang mengerutkan dahi karena belum pernah kesana atau jangan-jangan belum pernah dengar namanya sekalipun heee. Karena dengar cerita memang pulau ini baru dibuka sebagai tempat wisata sekitar 3 tahun lalu.
Tapi tenang bagi sobat yang belum ke pulau tidung saya akan ceritakan  perjalaanan Backpacker saya Dkk dan memberikan bagaimana gambaran pulau tidung itu. Saya sarankan sih segera dimasukkan ke list liburan sobat deh, gag bakalan nyelesel dehh. Hee :P
Pulau Tidung
Begini ceritanya, jengjengjeng...

Kamis, 08 November 2012

Lahirnya Generasi Indonesia Emas

Oleh    : Mustaqim Latukau

”Tanggung jawab pertama seorang pemimpin adalah mendefinisikan realitas. Yang terakhir adalah mengucapkan terima kasih. Pemimpin adalah pelayan.” Max De Pree.
Mungkin kalimat di atas begitu enak untuk kita dengar bahkan kita mengiyakan itu semua namun tidak berlaku untuk bangsa ini. Pemimpin-pemimpin bangsa ini masih terlalu jauh dari  pelayan bagi rakyatnya bahkan mungkin tidak layak disebut pemimpin. Kepemimpinan mereka sungguh memprihatinkan dalam melaksanakan amanah yang tercantum dalam pembukaan UUD 19945. Jangan harap melindungi segenap bangsa indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa, yang ada malah mengkayakan golongan sendiri, mengurusi partai, korupsi sana-sini dan rebutan proyek Negara.