Apa yang
dapat kita banggakan dari seeokor semut? Pertanyaan diatas mungkin terlihat
sederhana dan agak tidak penting untuk dijawab. Semut hanyalah makhluk kecil
ciptaan tuhan, saking kecilnya kerap kita injak dengan sepatu dan sandal kita.
Jika ia mengusik cukup dengan sekali kibasan tangan semut itu pun terpental
jauh entah kemana. Namun pertanyaan diatas menjadi sangat penting untuk dijawab
apabila kita ingin belajar mengenai sebuah arti kerja sama, sistem peperangan,
ekonomi bahkan keberlangsugan hidup.
Dalam
sebuah laporan yang disampaikan oleh Agus Purwanto yang mengutip laporan dari
majalah Reader Didest yang terbit sekitar tahun 70-an
setidaknya ada 4 hal penting dimana semut dapat menjadi panutan kita.
 |
| Semut Rangrang |
Pertama, sebuah kelompok semut
mempunyai sistem atau struktur kemasyarkatan lengkap dengan pembagian tugasnya.
Jadi tidak mungkin di komunitas semut ada seorang lulusan sarjana ekonomi
kemudian menjabat sebgai menteri perhutanan. Dimana hutan kemudian dugunduli
habis untuk mendapatkan uang. Kedua,
masyarakat semut mengenal sistem peperangan kolektif, disinilah kita belajar
bagaimana persatuan bangsa dapat menghasilkan kekuatan besar untuk menghalau
musuh yang datang. Ketiga, semut
mengenal sistem perbudakan, dimana telur-telur semut yang kalah perang diangkut
sebagai harta rampasan perang bagi kelompok yang menang. Telur-telur tersebut
bukan untuk dibunuh ataupun disiksa melainkan ketika menetas nanti ia akan
kasih tugas sesuai perannya dan menjadi bagian dari komunitas. Inilah cara
semut mengajari kita arti toleransi. Keempat,
semut mengenal sistem perkembangbiakan dengan cara peternakan dan kelima, semut mengenal sistem navigasi
yang baik. Ketika seekor semut menemukan sumber makanan maka ia akan mengirim
sinyal kepada kawannya kemudia bersama-sama mengangkat sumber makanan tersebut
ke kerajaannya. Itulah arti sebuah kerja sama.
Itulah
sebagian arti kecil kehadiran semut yang dapat dijadikan pelajaran untuk
kehidupan berbangsa dan bernegara kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar