PAZZA INTER AMALA

Senin, 24 Juni 2013

KULIAH, Antara Perlu atau Butuh ??



Allah akan meninggikan orang-orang yang berilmu bebrapa derajat. Yah itulah janji Allah dalam firmannya. Berbicara mengenai ilmu, kadang sebagai mahasiswa kita terjebak dalam kata KULIAH ataupun kegiatan mengajar formal lainnya. Persepsi yang berkembang dimasyarakat kita saat ini bahwa ilmu hanya didapat dari bangku sekolah/kuliah sungguh mengkerdikan manusia itu sendiri. Manusia dilahirkan ke dunia dengan potensi yang begitu luar biasa jadi sangat naif kita menempatkan ilmu hanya pada bangku kuliah.

Banyak sekali sejarah mencatatkan nama-nama hebat yang tidak merasakan bangku kuliah atau bahkan mereka disia-siakan oleh Universitas tempat dimana mereka menimba ilmu tetapi mereka dapat berbuat banyak terhadap perkembangan dunia ini. Sebut saja Bill Gates, Soichiro Honda, Colonel Sanders bahkan Thomas Alfa Edison pun tidak memiliki sertifikat sarjana. Yaa, mereka tidak bermodalkan ijazah untuk mendapatkan pekerjaan melainkan terus mengasah kemampuan yang mereka miliki untuk membuat pekerjaan.

Lalu pertanyaan yang mucul adalah apakah kita perlu kuliah atau butuh kuliah?. Kata perlu dan butuh seringkali kita gunakan untuk mengungkapkan apa yang kita inginkan. Seperti makan, adalah sesuatu yang kita butuhkan kerena menyangkut kelangsungan hidup kita. Namun jika berbicara kuliah maka kita hanya memerlukannya, lain halnya dengan belajar dimana kita membutuhkannya. Kuliah hanyalah salah satu cara dari sekian banyak cara untuk mendapatkan ilmu. Itulah mengapa banyak orang hebat yang sukses karena mereka belajar tidak hanya terpaku dengan bangku kuliah. Kuliah hanyalah salah satu kendaraan untuk mencapai tingkat keilmuan sedangkan masih banyak kendaraan lain yang dapat kita gunakan.

Disini bukan berarti kita menyepelekan kegiatan mengajar di bangku perkuliahan. Kuliah memang diperlukan namun sangat disayangkan jika kuliah hanya dijadikan tujuan untuk menggapai sederet nilai dalam ijazah yang kemudian digunakan sebagai patokan tingkat keilmuan seseorang bahkan dijadikan standar dalam penerimaan pegawai. Sudah saatnya kita merubah paradigma yang berkembang di masyarakat dimulai dari diri kita sendiri. Untuk itu marilah kita jadikan diri ini sebagai insan pembelajar yang tidak hanya terpaku menimba ilmu di bangku perkuliahan. Sungguh ilmu Allah tersebar di segala penjuru muka bumi. (MULA)

Bicara Skripsi^



Bicara mengenai SKRIPSI bicara mengenai tingkat KEFOKUSAN. Yaa, itulah yang sedang saya alami. Terkadang kefokusan terhadap skripsi terkalahkan dengan berbagai aktivitas lainnya seperti Main futsal, Badminton dan terlebih lagi saya masih aktif di beberapa organisasi kampus. Jika dilihat dari “Dream Books” maka tahun ini adalah tahun terakhir saya berada di kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta Prodi S1 Kesehatan Masyarakat. Untuk itu selalu saya meminta kepada Tuhan agar kefokusan mengerjakan Skripsi tidak hilang dalam diri ini.
Pada tulisan kali ini saya sedikit menceritakan bagaimana berurusan dengan birokrasi untuk mendapatkan izin penelitian saya. Sebelumnya saya berikan info, judul skripsi saya adalah “Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Chikungunya di RW 08 Kelurahan Grogol Wilayah Kerja Puskesmas Limo Kota Depok Tahun 2013”. Dengan menggunakan desain studi Case Control.
Hal pertama yang mesti dilakukan adalah mengajukan surat pengantar untuk penelitian dari kampus kepada Dinas Kesehatan Kota Depok. Karena kosentrasi pendidikan saya kesehatan maka dengan Dinkes lah saya berhubungan (bukan intim). Setelah mendapatkan surat pengantar dari kampus keesokan harinya saya langsung ke kantor Dinkes Depok. Ada yang tau dimana letak kantor Dinkes Depok? Iya tepat. Letaknya di seberang ITC depok. Jadi jangan sekali-kali ke kantor walikota yaa. Bangunannya sangat sederhana karena hanya berupa ruko yang disulap menjadi kantor.