PAZZA INTER AMALA

Kamis, 18 Juli 2013

Revolusi KRL

Bagi sebagian orang KRL (commuter) merupakan alat transportasi yang sangat efesien karena waktu tempuhnya yang sangat cepat dibandingkan dengan  transportasi lainnya. Namun bagi saya yang notabene nya adalah seorang mahasiswa, sebelum menggunakan KRL kadang membutuhkan beberapa pertimbangan khususnya berkaitan dengan masalah biaya yang harus dikeluarkan. Kenapa?. Karena untuk sekali perjalanan saja, biasanya saya naik dari dari satsiun Depok Baru, saya harus merogoh kocek sebesar Rp. 7000,- jika ingin pergi ke Stasiun UI padahal jarak antara stasiun Depok Baru-UI hanya 2 stasiun karena selama ini PT. KAI menerapkan sistem tiket sekali jalan. Kasarnya adalah jauh-dekat 7 ribu.

Namun mulai bulan juni 2013 ini ada sebuah revolusi yang dilakukan oleh PT. KAI mengenai penerapan tarif KRL. Dimana selama ini menggunakan system tarif sekali jalan, diganti dengan tarif Progresif. Penghitungan tarif progresif berdasarkan jumlah stasiun yang dilalui. Untuk lebih jelasnya penghitungan tarif progresif sebagai berikut.

-         5 stasiun pertama adalah Rp. 3000 (subsidi dari pemerintah Rp. 1000) jadi tarif berlaku adalah Rp. 2000 kemudian 3 stasiun berikutnya Rp. 1000 (subsidi dari pemerintah Rp. 500) jadi Rp. 500

contoh :
Kasus 1 jarak dekat :: saya berangkat dari stasiun Depok Baru ingin ke stasiun UI jika selama ini saya bayar Rp. 7000 maka dengan tarif progresif saya cukup bayar Rp. 2000
Jarak Stasiun Depok baru-UI adalah 2 stasiun.

Kasus 2 jarak jauh :: saya berangkat dari stasiun Depok Baru ingin ke stasiun Manggarai jika selama ini saya bayar Rp. 7000 maka dengan tarif progresif saya cukup bayar Rp. 3000
Jarak stasiun Depok baru-Manggarai adalah 11 stasiun.

disamping masih perlunya dilakukan beberapa evaluasi mengenai pelayanan KRL namun setidaknya dengan berlakunya tarif progresif ini menjadi semacam angin segar bagi para pengguna KRL khususnya saya pribadi karena dengan system tarif tersebut ditambah subsidi dari pemerintah maka tarif KRL dapat ditekan. Selain itu kondisi Peron stasiun telah disterilkan dari pedagang hal ini semakin menambah kenyamanan para pengguna KRL. Semoga perbaikan-perbaikan seperti ini dilakukan terhadap sarana transportasi massal lainnya demi perbaikan kehidupan masyarakat. (MULA)





Senin, 24 Juni 2013

KULIAH, Antara Perlu atau Butuh ??



Allah akan meninggikan orang-orang yang berilmu bebrapa derajat. Yah itulah janji Allah dalam firmannya. Berbicara mengenai ilmu, kadang sebagai mahasiswa kita terjebak dalam kata KULIAH ataupun kegiatan mengajar formal lainnya. Persepsi yang berkembang dimasyarakat kita saat ini bahwa ilmu hanya didapat dari bangku sekolah/kuliah sungguh mengkerdikan manusia itu sendiri. Manusia dilahirkan ke dunia dengan potensi yang begitu luar biasa jadi sangat naif kita menempatkan ilmu hanya pada bangku kuliah.

Banyak sekali sejarah mencatatkan nama-nama hebat yang tidak merasakan bangku kuliah atau bahkan mereka disia-siakan oleh Universitas tempat dimana mereka menimba ilmu tetapi mereka dapat berbuat banyak terhadap perkembangan dunia ini. Sebut saja Bill Gates, Soichiro Honda, Colonel Sanders bahkan Thomas Alfa Edison pun tidak memiliki sertifikat sarjana. Yaa, mereka tidak bermodalkan ijazah untuk mendapatkan pekerjaan melainkan terus mengasah kemampuan yang mereka miliki untuk membuat pekerjaan.

Lalu pertanyaan yang mucul adalah apakah kita perlu kuliah atau butuh kuliah?. Kata perlu dan butuh seringkali kita gunakan untuk mengungkapkan apa yang kita inginkan. Seperti makan, adalah sesuatu yang kita butuhkan kerena menyangkut kelangsungan hidup kita. Namun jika berbicara kuliah maka kita hanya memerlukannya, lain halnya dengan belajar dimana kita membutuhkannya. Kuliah hanyalah salah satu cara dari sekian banyak cara untuk mendapatkan ilmu. Itulah mengapa banyak orang hebat yang sukses karena mereka belajar tidak hanya terpaku dengan bangku kuliah. Kuliah hanyalah salah satu kendaraan untuk mencapai tingkat keilmuan sedangkan masih banyak kendaraan lain yang dapat kita gunakan.

Disini bukan berarti kita menyepelekan kegiatan mengajar di bangku perkuliahan. Kuliah memang diperlukan namun sangat disayangkan jika kuliah hanya dijadikan tujuan untuk menggapai sederet nilai dalam ijazah yang kemudian digunakan sebagai patokan tingkat keilmuan seseorang bahkan dijadikan standar dalam penerimaan pegawai. Sudah saatnya kita merubah paradigma yang berkembang di masyarakat dimulai dari diri kita sendiri. Untuk itu marilah kita jadikan diri ini sebagai insan pembelajar yang tidak hanya terpaku menimba ilmu di bangku perkuliahan. Sungguh ilmu Allah tersebar di segala penjuru muka bumi. (MULA)

Bicara Skripsi^



Bicara mengenai SKRIPSI bicara mengenai tingkat KEFOKUSAN. Yaa, itulah yang sedang saya alami. Terkadang kefokusan terhadap skripsi terkalahkan dengan berbagai aktivitas lainnya seperti Main futsal, Badminton dan terlebih lagi saya masih aktif di beberapa organisasi kampus. Jika dilihat dari “Dream Books” maka tahun ini adalah tahun terakhir saya berada di kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta Prodi S1 Kesehatan Masyarakat. Untuk itu selalu saya meminta kepada Tuhan agar kefokusan mengerjakan Skripsi tidak hilang dalam diri ini.
Pada tulisan kali ini saya sedikit menceritakan bagaimana berurusan dengan birokrasi untuk mendapatkan izin penelitian saya. Sebelumnya saya berikan info, judul skripsi saya adalah “Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Chikungunya di RW 08 Kelurahan Grogol Wilayah Kerja Puskesmas Limo Kota Depok Tahun 2013”. Dengan menggunakan desain studi Case Control.
Hal pertama yang mesti dilakukan adalah mengajukan surat pengantar untuk penelitian dari kampus kepada Dinas Kesehatan Kota Depok. Karena kosentrasi pendidikan saya kesehatan maka dengan Dinkes lah saya berhubungan (bukan intim). Setelah mendapatkan surat pengantar dari kampus keesokan harinya saya langsung ke kantor Dinkes Depok. Ada yang tau dimana letak kantor Dinkes Depok? Iya tepat. Letaknya di seberang ITC depok. Jadi jangan sekali-kali ke kantor walikota yaa. Bangunannya sangat sederhana karena hanya berupa ruko yang disulap menjadi kantor.

Senin, 06 Mei 2013

Islam dan Politik

Secara teoritis, politik  adalah suatu ilmu yang memiliki urgensi dan kedudukan tersendiri. Secara praktis, politik adalah suatu sistem yang memiliki kehormatan dan manfaat tersendiri karena ia berkaitan dengan usaha menangani urusan manusia dengan cara sebaik-baiknya.
Al-Imam Ibnu-Qayyim mengutip perkataan Al-Imam Abdul Wafa’ bin Usail Al-Hambali, bahwa politik adalah suatu kinerja yang dengannya manusia bisa menjadi lebih dekat dengan perbaikan dan lebih jauh dari kerusakan, selagi tidak bertentangan dengan syariat.
Tetapi manusia zaman sekarang, khususnya di negeri kita ini, justru merasa alergi terhadap politik dan sesuatu yang berbau politik. Hal ini bisa dikarenakan banyaknya masalah yang dihadapi dalam dunia politik dan tatkala berhadapan dengan mereka yang memainkan politik hanya untuk golongan tertentu saja.
Islam mempunyai sikap yang jelas dan hukum yang tegas dalam berbagai masalah yang dianggap sebagai tulang punggung dunia politik. Islam bukan hanya keyakinan para pemimpin agama atau slogan-slogan ibadah semata. Maksudnya, Islam tidak hanya sekedar hubungan antara manusia dengan Rabb-nya tanpa ada hubungan dengan cara mengatur kehidupan, menuntun masyarakat dan pemerintahan.
 Dengan kata lain, Islam merupakan sistem yang sempurna bagi kehidupan, yang meletakan prinsip-prinsip, membuat ketetapan hukum, menjelaskan tuntunan yang berkaitan dengan kehidupan individu, cara menata rumah tangga, mengatur masyarakat dan menjalin hubungan dengan dunia.
Sekalipun orang muslim sedang sholat, bisa saja dia terjun ke kancah politik yaitu tatkala dia membaca ayat-ayat dari kitab Allah yang berkaitan dengan masalah politik. Siapa yang membaca ayat-ayat dalam surat Al-Maidah yang menyuruh untuk menetapkan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, yang menganggap siapa pun yang tidak menetapkan perkara menurut apa yang diturunkan Allah sebagai orang kafir, zhalim dan fasik (lihat Al-Maidah ayat 44,45,47) berarti dia telah terjun ke kancah politik.
Bahkan Nabi Shallallahu Alaihi Wa  Sallam adalah seorang politikus, di samping sebagai mubaligh, pengajar dan hakim. Beliau adalah pemimpin pemerintahan dan pemimpin umat. Begitu pula Al-Khulafa’ur-rasyidin yang mengikuti jejak beliau. Mereka mengatur umat secara adil dan baik berdasarkan ilmu dan iman.
Dinukil dari buku "Fiqih Daulah" karya Dr. Yusuf Al-Qardhawy

Senin, 11 Februari 2013

Belajar Dari Semut


Apa yang dapat kita banggakan dari seeokor semut? Pertanyaan diatas mungkin terlihat sederhana dan agak tidak penting untuk dijawab. Semut hanyalah makhluk kecil ciptaan tuhan, saking kecilnya kerap kita injak dengan sepatu dan sandal kita. Jika ia mengusik cukup dengan sekali kibasan tangan semut itu pun terpental jauh entah kemana. Namun pertanyaan diatas menjadi sangat penting untuk dijawab apabila kita ingin belajar mengenai sebuah arti kerja sama, sistem peperangan, ekonomi bahkan keberlangsugan hidup.
Dalam sebuah laporan yang disampaikan oleh Agus Purwanto yang mengutip laporan dari majalah Reader Didest  yang terbit sekitar tahun 70-an setidaknya ada 4 hal penting dimana semut dapat menjadi panutan kita.
Semut Rangrang

Selasa, 22 Januari 2013

Begitu Indah


“Pertama bertemu pada malam yang begitu terang. Senyummu mengalahkan sinar rembulan. Ku terlena, lantas ku cari tahu siapa namamu. Nama seorang yang begitu indah, yang dengan beraninya masuk ke hati ini tanpa permisi.
Ahh.. ku terlalu cepat mengatakan ini tapi biarlah. Biarlah kau tahu, biarlah mereka berpendapat, biarlah ku terbuai dengan rasa ini.
Semua yang terjadi begitu cepat namun indah. Pandangan pertama? Yah lebih tepatnya untuk semua ini. Masih jelas di ingatanku, ketika mata kita bertemu kau terlihat begitu malu begitu juga denganku. Sejak itu ku selalu berharap kau adalah nama yang telah tertulis.”

Arti Pertemuan


“Hidup adalah mati, berjumpa adalah berpisah, memulai pasti diakhiri. Merupakan hal yang wajar namun sangat menyakitkan. Pada perpisahan dimaksudakan agar semua kebaikan terlihat dari sisi yang berjauhan.
Sore itu, aku duduk disekeliling kolam tenang saat matahari mulai di puncak klimaksnya. Aku benar-benar menyusuri wajhamu di beriak-beriak air yang bertaburan, kususuri pelan-pelan dan akhirnya aku sama sekali tak menemui meskipun hanya sekedar bayayangnmu.
Saat kau pergi, tak sepatah katapun kau titipi aku untuk menunggumu. Tak ada sepatah katamu untuk mengakhri ini semua. Tapi tampaknya aku harus mulai berdamai dengan perasaanku sendiri yang bergejolak denagan perih.”
Puisi ini ditulis oleh sahabatku secara diam-diam di binder ketika kita pertama bertemu di Bogor pada acara pelatihan pendidik sebaya Genre. Alfian.