PAZZA INTER AMALA

Selasa, 22 Januari 2013

Begitu Indah


“Pertama bertemu pada malam yang begitu terang. Senyummu mengalahkan sinar rembulan. Ku terlena, lantas ku cari tahu siapa namamu. Nama seorang yang begitu indah, yang dengan beraninya masuk ke hati ini tanpa permisi.
Ahh.. ku terlalu cepat mengatakan ini tapi biarlah. Biarlah kau tahu, biarlah mereka berpendapat, biarlah ku terbuai dengan rasa ini.
Semua yang terjadi begitu cepat namun indah. Pandangan pertama? Yah lebih tepatnya untuk semua ini. Masih jelas di ingatanku, ketika mata kita bertemu kau terlihat begitu malu begitu juga denganku. Sejak itu ku selalu berharap kau adalah nama yang telah tertulis.”

Arti Pertemuan


“Hidup adalah mati, berjumpa adalah berpisah, memulai pasti diakhiri. Merupakan hal yang wajar namun sangat menyakitkan. Pada perpisahan dimaksudakan agar semua kebaikan terlihat dari sisi yang berjauhan.
Sore itu, aku duduk disekeliling kolam tenang saat matahari mulai di puncak klimaksnya. Aku benar-benar menyusuri wajhamu di beriak-beriak air yang bertaburan, kususuri pelan-pelan dan akhirnya aku sama sekali tak menemui meskipun hanya sekedar bayayangnmu.
Saat kau pergi, tak sepatah katapun kau titipi aku untuk menunggumu. Tak ada sepatah katamu untuk mengakhri ini semua. Tapi tampaknya aku harus mulai berdamai dengan perasaanku sendiri yang bergejolak denagan perih.”
Puisi ini ditulis oleh sahabatku secara diam-diam di binder ketika kita pertama bertemu di Bogor pada acara pelatihan pendidik sebaya Genre. Alfian.