PAZZA INTER AMALA

Kamis, 08 November 2012

Lahirnya Generasi Indonesia Emas

Oleh    : Mustaqim Latukau

”Tanggung jawab pertama seorang pemimpin adalah mendefinisikan realitas. Yang terakhir adalah mengucapkan terima kasih. Pemimpin adalah pelayan.” Max De Pree.
Mungkin kalimat di atas begitu enak untuk kita dengar bahkan kita mengiyakan itu semua namun tidak berlaku untuk bangsa ini. Pemimpin-pemimpin bangsa ini masih terlalu jauh dari  pelayan bagi rakyatnya bahkan mungkin tidak layak disebut pemimpin. Kepemimpinan mereka sungguh memprihatinkan dalam melaksanakan amanah yang tercantum dalam pembukaan UUD 19945. Jangan harap melindungi segenap bangsa indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa, yang ada malah mengkayakan golongan sendiri, mengurusi partai, korupsi sana-sini dan rebutan proyek Negara.

Seharusnya mereka malu kepada diri mereka sendiri karena ketidakbecusan mereka dalam memimpin bangsa ini. Korupsi merajalela, anak-anak putus sekolah, kemiskinan dimana-mana, bahkan utang bangsa ini pun membengkak. Kenaikan utang pada tahun 2008 sangat memprihatinkan karena merupakan tertinggi dalam sejarah bangsa ini. Dalam kurun waktu 1 tahun kenaikan utang Rp 247,33 triliun atau Rp 20,61 triliun/bulan atau Rp 0,687 triliun/hari. Sungguh memprihatinkan.
Di tingkat daerah pun mengalami hal serupa. Masih jelas di ingatan kita beberapa waktu lalu ketika Pemprov DKI Jakarta mengeluarka Perda nomor 11 tahun 2011 mengenai pajak restoran. Hal ini sangat memprihatinkan karena bukan hanya restoran mewah yang akan terkena pajak melainkan usaha kecil pun akan dikenakan pajak seperti warteg. Dimanakah hati para pemimpin bangsa ini, disaat kewajiban mereka untuk mensejahterahkan rakyat belum terlaksana malah yang mereka lakukan adalah memiskinkan rakyat. Bukannya melindungi malah menjadi musuh.
Semua ini menunjukan adanya krisis kepemimpinan yang melanda bangsa ini. Pemimpin yang tidak berkepribadian, tidak dapat dipercaya dan mementingkan kelompoknya sendiri. Hal ini terjadi karena kekeliruan mereka dalam mengartikan makna dari pemimpin itu sendiri. Banyak yang mengartikannya sebagai kedudukan dan kehormatan yang tinggi saja. Sehingga posisi pemimpin pun diincar hanya untuk meninggikan kedudukan mereka dan hanya sekedar untuk mendapatkan kehormatan semata. Dengan paradigma seperti itu maka jangan heran jika banyak dari mereka yang merusaha dengan menghalalkan segala cara untuk menjadi pemimpin di bangsa ini.

Lahirnya Generasi Indonesia Emas
Namun bagaimana pun alam ini diciptakan dengan hukum keseimbangan, teori ini yang kemudian kita kenal dengan mekanisme pegas. Apabila terjadi ketidakseimbangan maka alam akan berusaha dengan sendirinya untuk menjapai titik dimana keseimbangan itu dapat terjadi. Ketika kondisi bangsa ini semakin semrawut, krisis kepemimpinan, kemiskinan merajalela, pengangguran meningkat, korupsi tak terbendung, hukum tidak ditegakan dll, maka sesungguhnya alam pun akan berusaha untuk mencapai keseimbangannya kembali. Sebagai contoh, revolusi yang terjadi di Negara-negara afrika seperti Libya, Tunnisia dan mesir adalah akibat dari krisis kepemimpinan yang terjadi di Negara tersebut.
Saat ini pun mekanisme pegas itu sedang terjadi pada bangsa ini untuk mencapai keseimbangannya kembali. Setumpuk masalah yang terjadi pada bangsa kita dalam beberapa tahun terkahir mulai dari musibah yang tak kunjung henti, perpecahan dimana-mana serta krisis kepemimpinan yang melanda bangsa ini, semua itu membuktikan alam sedang berproses dalam mencapai keseimbangannya di Negara ini.
Terwujudnya generasi Indonesia emas sesungguhnya hanya masalah waktu untuk mewujudkannya karena bangsa ini telah memiliki basic modal yang sangat kuat yaitu sumber daya manusia yang kompetitf dan sumber daya alam yang melimpah.
Yang pertama, sumber daya manusia yang kompetitif. Tak dipungkiri lagi saat ini muncul anak-anak muda yang begitu inovatif di dalam segala bidang. Dalam bidang entrepreneurship muncul nama-nama seperti Ippho Santosa dimana bukunya 7 keajaiban rejeki menjadi mega bestseller dan trainingnya pun telah merambah pasar internasional, serta ada pula nama Sandiaga S. Uno salah satu entrepreneurship tersukses di Indonesia dan masih banyak lagi pengusaha muda lainnya.. Menurut salah satu penelitian, suatu Negara dapat mencapai kemakmuran dan kesejahteraan jika minimal 2% dari jumlah penduduknya menjadi pengusaha . Maka melalui merekalah jiwa-jiwa entrepreneurship akan ditularkan kepada generasi ini sehingga tunggu saatnya Indonesia menjadi kekuatan baru dalam bidang perekonomian dunia dengan berbasis jiwa-jiwa entrepreneur.
Dalam bidang eksak pun kemampuan anak bangsa sangat mengagumkan, dalam perhelatan European Girls Mathematical Olympiad (EGMO) 2012 dua siswi dari Indonesia, Christita Lorenzia dan Natasha Sutedja berhasil menyabet medali perak dan perunggu. Sedangkan dalam Wizard at Mathematics Internasional Competition (WIZMIC) 2011, Indonesia berhasil menjadi juara umum mengungguli negara-negara seperti China, Thailand, dan India. Hal ini membuktikan telah lahirnya generasi Indonesia emas yang siap menjadikan Negara ini sebagai subuah kekuatan baru dalam persaingan global.
Kedua, sumber daya alam yang melimpah. Tidak ada satu pun orang yang meragukan sumber daya alam yang dimiliki oleh Indonesia baik kualitas maupun kuantitasnya. Sekilas, lihat saja yang ada di depan mata kita, sawah hijau terbentang luas, samudera biru terhampar, hutan hujan tropis sebagai tempat tinggal bermacam-macam fauna. Lalu tengoklah ke bumi papua,  pertambangan emas terbesar di dunia, pertambangan gas terbesar di dunia ada di Blok Natuna,  keanekaragaman species laut , belum lagi keindahan pariwisata yang begitu mempesona. Semua ini menjadi modal berharga bagi bangsa ini untuk menciptakan Generasi Indonesia emas tentunya ditunjang dengan pemimpin-pemimpin bangsa yang berkepribadian.
Dengan kombinasi basic modal diatas serta di dukung oleh semesta yang sedang mencapai keseimbangan maka bersiaplah untuk menyongsong generasi Indonesia emas. Generasi yang menjadikan Indonesia sebagai Negara adidaya serta mewujudakan cita-cita bangsa yang terkandung dalam UUD 1949. Sekali lagi BERSIAPLAH..!!!!

DAFTAR PUSTAKA
Agustian, Ary ginanjar. 2009. The ESQ Way 165. Jakarta. Arga
Assad, Muhammad. 2011. Notes From Qatar. Jakarta. Gramedia
Massardi, Adhie M. 2011. Pilpres Abal-abal Republik Amburadul. Jakarta. Republika




Tidak ada komentar:

Posting Komentar