Oleh : Mustaqim
Latukau
”Tanggung
jawab pertama seorang pemimpin adalah mendefinisikan realitas. Yang terakhir
adalah mengucapkan terima kasih. Pemimpin adalah pelayan.” Max De Pree.
Mungkin
kalimat di atas begitu enak untuk kita dengar bahkan kita mengiyakan itu semua
namun tidak berlaku untuk bangsa ini. Pemimpin-pemimpin bangsa ini masih
terlalu jauh dari pelayan bagi rakyatnya
bahkan mungkin tidak layak disebut pemimpin. Kepemimpinan mereka sungguh
memprihatinkan dalam melaksanakan amanah yang tercantum dalam pembukaan UUD 19945.
Jangan harap melindungi segenap bangsa indonesia, mencerdaskan kehidupan
bangsa, yang ada malah mengkayakan golongan sendiri, mengurusi partai, korupsi
sana-sini dan rebutan proyek Negara.
Seharusnya
mereka malu kepada diri mereka sendiri karena ketidakbecusan mereka dalam
memimpin bangsa ini. Korupsi merajalela, anak-anak putus sekolah, kemiskinan
dimana-mana, bahkan utang bangsa ini pun membengkak. Kenaikan utang pada tahun
2008 sangat memprihatinkan karena merupakan tertinggi dalam sejarah bangsa ini.
Dalam kurun waktu 1 tahun kenaikan utang Rp 247,33 triliun atau Rp 20,61
triliun/bulan atau Rp 0,687 triliun/hari. Sungguh memprihatinkan.
Di
tingkat daerah pun mengalami hal serupa. Masih jelas di ingatan kita beberapa
waktu lalu ketika Pemprov DKI Jakarta mengeluarka Perda nomor 11 tahun 2011
mengenai pajak restoran. Hal ini sangat memprihatinkan karena bukan hanya
restoran mewah yang akan terkena pajak melainkan usaha kecil pun akan dikenakan
pajak seperti warteg. Dimanakah hati para pemimpin bangsa ini, disaat kewajiban
mereka untuk mensejahterahkan rakyat belum terlaksana malah yang mereka lakukan
adalah memiskinkan rakyat. Bukannya melindungi malah menjadi musuh.
Semua
ini menunjukan adanya krisis kepemimpinan yang melanda bangsa ini. Pemimpin
yang tidak berkepribadian, tidak dapat dipercaya dan mementingkan kelompoknya
sendiri. Hal ini terjadi karena kekeliruan mereka dalam mengartikan makna dari
pemimpin itu sendiri. Banyak yang mengartikannya sebagai kedudukan dan
kehormatan yang tinggi saja. Sehingga posisi pemimpin pun diincar hanya untuk
meninggikan kedudukan mereka dan hanya sekedar untuk mendapatkan kehormatan
semata. Dengan paradigma seperti itu maka jangan heran jika banyak dari mereka
yang merusaha dengan menghalalkan segala cara untuk menjadi pemimpin di bangsa
ini.
Lahirnya Generasi
Indonesia Emas
Namun
bagaimana pun alam ini diciptakan dengan hukum keseimbangan, teori ini yang
kemudian kita kenal dengan mekanisme pegas. Apabila terjadi ketidakseimbangan
maka alam akan berusaha dengan sendirinya untuk menjapai titik dimana
keseimbangan itu dapat terjadi. Ketika kondisi bangsa ini semakin semrawut,
krisis kepemimpinan, kemiskinan merajalela, pengangguran meningkat, korupsi tak
terbendung, hukum tidak ditegakan dll, maka sesungguhnya alam pun akan berusaha
untuk mencapai keseimbangannya kembali. Sebagai contoh, revolusi yang terjadi
di Negara-negara afrika seperti Libya, Tunnisia dan mesir adalah akibat dari
krisis kepemimpinan yang terjadi di Negara tersebut.
Saat
ini pun mekanisme pegas itu sedang terjadi pada bangsa ini untuk mencapai
keseimbangannya kembali. Setumpuk masalah yang terjadi pada bangsa kita dalam
beberapa tahun terkahir mulai dari musibah yang tak kunjung henti, perpecahan
dimana-mana serta krisis kepemimpinan yang melanda bangsa ini, semua itu
membuktikan alam sedang berproses dalam mencapai keseimbangannya di Negara ini.
Terwujudnya
generasi Indonesia emas sesungguhnya hanya masalah waktu untuk mewujudkannya
karena bangsa ini telah memiliki basic modal yang sangat kuat yaitu sumber daya
manusia yang kompetitf dan sumber daya alam yang melimpah.
Yang
pertama, sumber daya manusia yang kompetitif. Tak dipungkiri lagi saat ini
muncul anak-anak muda yang begitu inovatif di dalam segala bidang. Dalam bidang
entrepreneurship muncul nama-nama seperti Ippho Santosa dimana bukunya 7
keajaiban rejeki menjadi mega bestseller dan trainingnya pun telah merambah
pasar internasional, serta ada pula nama Sandiaga S. Uno salah satu entrepreneurship
tersukses di Indonesia dan masih banyak lagi pengusaha muda lainnya.. Menurut
salah satu penelitian, suatu Negara dapat mencapai kemakmuran dan kesejahteraan
jika minimal 2% dari jumlah penduduknya menjadi pengusaha . Maka melalui
merekalah jiwa-jiwa entrepreneurship akan ditularkan kepada generasi ini
sehingga tunggu saatnya Indonesia menjadi kekuatan baru dalam bidang
perekonomian dunia dengan berbasis jiwa-jiwa entrepreneur.
Dalam
bidang eksak pun kemampuan anak bangsa sangat mengagumkan, dalam perhelatan
European Girls Mathematical Olympiad (EGMO) 2012 dua siswi dari Indonesia,
Christita Lorenzia dan Natasha Sutedja berhasil menyabet medali perak dan
perunggu. Sedangkan dalam Wizard at Mathematics Internasional Competition
(WIZMIC) 2011, Indonesia berhasil menjadi juara umum mengungguli negara-negara
seperti China, Thailand, dan India. Hal ini membuktikan telah lahirnya generasi
Indonesia emas yang siap menjadikan Negara ini sebagai subuah kekuatan baru
dalam persaingan global.
Kedua,
sumber daya alam yang melimpah. Tidak ada satu pun orang yang meragukan sumber
daya alam yang dimiliki oleh Indonesia baik kualitas maupun kuantitasnya.
Sekilas, lihat saja yang ada di depan mata kita, sawah hijau terbentang luas,
samudera biru terhampar, hutan hujan tropis sebagai tempat tinggal
bermacam-macam fauna. Lalu tengoklah ke bumi papua, pertambangan emas terbesar di dunia,
pertambangan gas terbesar di dunia ada di Blok Natuna, keanekaragaman species laut , belum lagi
keindahan pariwisata yang begitu mempesona. Semua ini menjadi modal berharga
bagi bangsa ini untuk menciptakan Generasi Indonesia emas tentunya ditunjang
dengan pemimpin-pemimpin bangsa yang berkepribadian.
Dengan
kombinasi basic modal diatas serta di dukung oleh semesta yang sedang mencapai
keseimbangan maka bersiaplah untuk menyongsong generasi Indonesia emas.
Generasi yang menjadikan Indonesia sebagai Negara adidaya serta mewujudakan
cita-cita bangsa yang terkandung dalam UUD 1949. Sekali lagi BERSIAPLAH..!!!!
DAFTAR PUSTAKA
Agustian, Ary
ginanjar. 2009. The ESQ Way 165.
Jakarta. Arga
Assad, Muhammad.
2011. Notes From Qatar. Jakarta. Gramedia
Massardi, Adhie
M. 2011. Pilpres Abal-abal Republik
Amburadul. Jakarta. Republika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar