“Pertama bertemu pada malam
yang begitu terang. Senyummu mengalahkan sinar rembulan. Ku terlena, lantas ku
cari tahu siapa namamu. Nama seorang yang begitu indah, yang dengan beraninya
masuk ke hati ini tanpa permisi.
Ahh.. ku terlalu cepat
mengatakan ini tapi biarlah. Biarlah kau tahu, biarlah mereka berpendapat,
biarlah ku terbuai dengan rasa ini.
Semua yang terjadi begitu
cepat namun indah. Pandangan pertama? Yah lebih tepatnya untuk semua ini. Masih
jelas di ingatanku, ketika mata kita bertemu kau terlihat begitu malu begitu
juga denganku. Sejak itu ku selalu berharap kau adalah nama yang telah
tertulis.”


