“Hidup adalah mati,
berjumpa adalah berpisah, memulai pasti diakhiri. Merupakan hal yang wajar
namun sangat menyakitkan. Pada perpisahan dimaksudakan agar semua kebaikan
terlihat dari sisi yang berjauhan.
Sore itu, aku duduk
disekeliling kolam tenang saat matahari mulai di puncak klimaksnya. Aku
benar-benar menyusuri wajhamu di beriak-beriak air yang bertaburan, kususuri
pelan-pelan dan akhirnya aku sama sekali tak menemui meskipun hanya sekedar
bayayangnmu.
Saat kau pergi, tak
sepatah katapun kau titipi aku untuk menunggumu. Tak ada sepatah katamu untuk
mengakhri ini semua. Tapi tampaknya aku harus mulai berdamai dengan perasaanku
sendiri yang bergejolak denagan perih.”
Puisi ini ditulis oleh
sahabatku secara diam-diam di binder ketika kita pertama bertemu di Bogor pada
acara pelatihan pendidik sebaya Genre. Alfian.


